Another Journal ~
Hai, This is Tasya.
Seperti yang sebelumnya saya
katakan, ini merupakan bulan ketika saya berada di Ampana dan kali ini saya
ingin bercerita tentang pengalaman saya 3 bulan yang lalu saat akan berangkat
ke Ampana, bisa di bilang cukup terlambat memang untuk bercerita namun ini
hanyalah arsip kenangan untuk masa depan. Sebelumnya saya sudah pernah menulis
tentang pengalaman saya saat akan berangkat di Ampana tapi journal itu cukup
panjang dan akward untuk di publish.
Saya berangkat ke Ampana tanggal
10 Agustus 2020, saat itu selepas magrib waktu mobil yang akan saya tumpangi
datang untuk menjemput, saya naik mobil rental yang rutenya Makassar-Luwuk.
Cukup sedih memang karena ini merupakan pengalaman pertama saya keluar
provinsi, sendirian dan tak tau tempat tujuan saya itu bagian mana dan seperti
apa tapi bermodalkan keberanian akhirnya saya sampai di sini.
Cukup
melelahkan memang, bukan tanpa alasan karena waktu yang saya tempuh untuk sampai
disini memakan waktu 2 hari 2 malam, walaupun sebenarnya bisa di tempuh dengan
waktu 2 malam 1 hari tapi supir yang membawa mobil sempat singgah untuk tidur
di rest area semalaman. Tapi perasaan lelah yang saya rasakan cukup terbayarkan
dengan pemandangan baru yang saya lihat, dimulai dengan pemandangan hamparan
perkebunan sawit, melewati hutan gelap yang memakan waktu berjam-jam, jurang disebelah
kanan dan kiri, pemandangan lautan awan saat tepat berada di atas gunung, dan
pemandangan bukit di sekitar lautan juga saya dapatkan.
Namun yang
membuat saya sedih adalah ketika saya melewati kabupaten Masamba, itu kaena
saat itu Masamba baru saja dilanda banjir bandang yang menenggelamkan ratusan
rumah dan menghabiskan hampir seluruh harta warga disana. Saya sempat terjebak
macet selama 1 jam karena jalanan yang sempit di tambah lumpur dan berhenti di
pom bensin selama 2 jam karena panjangnya antrian orang yang ingin mengisi
bahan bakar, beruntungnya saat saya di Masamba ada teman saya yang kebetulan
melakukan PKN di sana jadi dia menemani saya agar tidak bosan sekaligus
bercerita tentang situasi Masamba saat di landa banjir bandang.
Kalau
ada yang penasaran kenapa saya tidak naik pesawat dan malam naik mobil, itu
karena penerbangan di bandara Ampana saat itu tutup dan kalau saya mau naik
pesawat dari Makassar ke Palu masih harus naik mobil dari Palu ke Ampana dan
itu memakan waktu sekitar 7 jam lagi. Tapi saya tidak menyesal dan malam
menikmati perjalanan selama naik mobil, tentunya karena semakin banyak
pemandangan yang dapat saya nikmati dan pengalaman bepergian sendirian bisa
semakin saya rasakan, jujur pengalaman perjalanan saya ketika menuju kesini
adalah yang terbaik yang pernah saya dapatkan. Kalau di beri kesempatan saya
ingin sekali untuk bepergian sendirian seperti itu lagi.
Ya,
seperti itulah pengalaman saya ketika perjalanan menuju kesini, dan itu sangat
mengesankan. Kalian juga harus merasakan rasanya bepergian sendirian tanpa
mengetahui tempat seperti apa yang akan kamu tuju. Sampai jumpa di journal
selanjutnya.
See u J

Komentar
Posting Komentar